Tuesday, July 3, 2012

Penganiayaan Terhadap Anak

I.         Pengertian Penganiayaan Terhadap Anak

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, ditinjau dari etimologis Penganiayaan berasal dari kata dasar “aniaya” yang memiliki arti menyiksa, mempersakiti dengan bengis. Kemudian kata dasar tersebut mendapat imbuhan pe-an sehingga menjadi kata “penganiayaan” yang berarti perlakuan sewenang-wenang (penyiksaan, penindasan dan sebagainya)[1].
Sedangkan menurut Joyce Angel (2009:275) pengertian dari Penganiayaan  terhadap anak adalah sebagai cedera fisik, psikologis, seksual, atau sosial; perawatan yang tidak benar; atau bertindak buruk kepada anak, dapat ditelusuri dari orang tua, saudara kandung, kerabat, teman, para professional, dan orang lain yang berhubungan dengan anak.

II.     Faktor-Faktor Penganiayaan Terhadap Anak
Ada beberapa faktor yang menyebabkan penganiayaan terhadap anak. Lippincott Williams dan wilkins (2008:281), Orang tua yang menganiaya anak mereka sering kali belum dewasa secara emosional dan sangat miskin, tidak mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri sehingga tidk dapat memenuhi kebutuhan anak. Seperti dalam penganiayaan pasangan, anak yang dianiaya sering dianggap sebagai hak milik orang tua yang menganiaya. Anak-anak tidak dihargai sebagai orang yang memmiliki hak dan perasaan. Pasa beberapa kasus, ornag tua merasakan kebutuhan unutk memiliki anak dengan tujuan mengganti masa kanak-kanaknya yang mengecewakan. Orang tua ingin merasakan cinta antara anak dan orang tua yang tidak dimilikinya ketika ia kanak-kanak. Harapan yang tidak realistis untuk memiliki anak yang akan memebri orang tua cinta dan memenuhi semua kebutuhan orang tua sering kali dihancurkan oleh realitas tuntutan membesarkan anak yang sangat besar dalam aspek emosional, fisik, dan finansial. Ketika harapan orang tua yang tidak realistis ini tidak dipenuhi, orang tua sering kembali menggunakan metode yang juga digunakan orang tuanya.




III.  Bentuk-Bentuk Penganiayaan terhadap Anak dan Pengabaian Terhadap Anak Sebagai Salah Satu Bentuk Penganiayaan
             Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap anak: pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual anak. Penulisan makalah ini lebih menekankan pada permasalahan Pengabaian terhadap anak atau penelantaran anak. Dalam situs Wikipedia dijelaskan, penelantaran anak adalah di mana orang dewasa yang bertanggung jawab gagal untuk menyediakan kebutuhan memadai untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang), pendidikan (kegagalan untuk mendaftarkan anak di sekolah) , atau medis (kegagalan untuk mengobati anak atau membawa anak ke dokter).
Beberapa fakta mengenai pengabaian terhadap anak di Indonesia. Aborsi dan pembuangan anak merupakan salah satu dari kasus penelantaran terhadap anak yang seringkali terjadi di Indonesia. Seperti beberapa kasusu akhir-akhir ini yang dilaporkan dalam sebuah situs jogja.tribunnews.com. Telah ditemukan dua jasad bayi di wilayah Bantul. Setelah sebelumnya ditemukan bayi berjenis kelamin laki-laki di Kali Opak, Puton, Jetis dalam keadaan masih utuh, Rab(13/6) sekitar pukul 05.30, telah ditemukan mayat bayi berjenis laki-laki di Kali Progo. Fenomena penemuan mayat bayi ini, menurut Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Maya Sintowati Pandji mengatakan, bisa saja mayat bayi itu adalah janin tak berdosa yang telah diaborsi atau bisa saja lahir normal tapi tidak dikehendaki, kemudian dibuang.
Kasus lainnya yang merupakan kasusu pengabaian terhadap anak yaitu kasusu busung lapar. Orang mengabaikan anaknya untuk mendapatkan makanan dan asupan gizi yang cukup bagi anaknya. Dalam sebuah blog yaitu http://rockerindahouse.blogspot.com, kasus busung lapar yang menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun di Indonesia mencapai angka delapan persen. Sesuai dengan proyeksi penduduk Indonesia yang disusun Badan Pusat Statistik, tahun 2005 ini jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia mencapai 20,87 juta. Itu berarti saat ini ada sekitar 1,67 juta anak balita yang menderita busung lapar.
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), anak balita yang menderita busung lapar mencapai 10 persen dari total anak balita. Wakil Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB dr IK Gerudug ketika ditemui di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Jumat (27/5), mengemukakan, sesuai dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), di NTB ada sekitar 498.000 anak balita. Dengan demikian, sekitar 49.000 anak balita di antaranya menderita gizi buruk atau bahkan busung lapar.
Menurut data Dinkes NTB, para penderita gizi buruk itu ditemukan di Kabupaten Lombok Timur (175 kasus), Kabupaten Lombok Barat (133), Kota Mataram (23), dan Lombok Tengah (7).
Di DI Yogyakarta ternyata angka gizi buruknya mencapai 3 persen atau 4.755 anak balita dari total 142.647 anak balita di daerah itu.
Menurut Kepala Dinkes DIY Bondan Agus Suryanto, anak balita gizi buruk itu tersebar di seluruh kabupaten dan kota, tetapi konsentrasinya lebih banyak di pesisir pantai di Kabupaten Gunung Kidul dan Kulon Progo.


IV.      Solusi Pencegahan
            Kini tindak kekerasan menjadi tindakan alternatif manakala keinginan dan kepentingan suatu individu atau kelompok tidak tercapai. Terlebih di Indonesia, kekerasan melanda di segala bidang kehidupan baik sosial, politik, budaya, bahkan keluarga. Walaupun tindakan ini membawa kerugian yang besar bagi semua pihak, angka terjadinya kekerasan terus meningkat dari hari ke hari. Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mencegah semakin membudayanya tindak kekerasan. Upaya-upaya tersebut (sebagaimana dikutip Arif Rohman: 2005) antara lain:
a. Kampanye Anti-Penganiayaan Terhadap Anak
            Dilakukannya kampanye anti penganiayaan terhadap anak secara kontinuitas mendorong orang tua untuk lebih menyadari akan akibat dari penganiayaan terhadap anak. Melalui kampanye orang tua dari anak-anak akan mengetahui efek psikologis maupun kesehatan bagi anaknya.
b. Penegakan Hukum
Sistem hukum yang tidak tegas mampu memengaruhi munculnya tindak kekerasan. Diberikan tindakan hukum yang sesuai bagi orang tua yang melakukan penelantaran terhadap anaknya agar mereka jera akan perbuatan yang telah dilakukan.
c. Pemerintah Peduli Terhadap Rakyat
Sebagian besar penganiayaan terhadap anak  yang terjadi di Indonesia dikarenakan kemiskinan yang sedang melanda masyarakat. Ketidak mampuan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun ankanya menjadi pemicu penganiayaan terhadap anak terutama pengabaian terhadap anak. Pemerintah seharusnya memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya sehingga rakyat dapat hidup dalam kemakuran dan akan mendorong perhatian yang lebih kepada anak-anaknya
V.Penutup
Demikianlah pemaparan penulis tentang pengaiayaan terhadap anak yang lebih menekankan pada tema pengabaian terhadap anak. Dari pemaparan diatas kita dapat menyimpulkan bahwa tindakan pengabaian terhadap anak menjadi sebuah problema yang sedang dialami di Indonesia. Pengabaian terhadap anak dapat merugikan bangsa kita. Anak-anak lah yang akan menjadi pemimpin dimasa yang akan dating.
          Terakhir penulis mengajak kepada pembaca dan semua elemen masyarakat untuk menjaga anak-anak bangsa dari tindak penganiayaan. Bangun bangsa ini dengan menjaga aset bangsa di masa depan yaitu anak-anak. Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju. Kepada pemerinta agar lebih terbuka matanya untuk melihat kondisi masyarakat kita yang mengalami banyak masalah sosial, begitu juga dengan permasalahan pengabaian terhadap anak.















Referensi
Angel, Joyce. 2009.  Pengkajian pediatrik: Seri pedoman praktis,Ed. 4. Jakarta. EGC

Williams, Lippincott. 2008. buku ajar keperawatana jiwa. Jakarta. EGC

http://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_terhadap_anak#Penelantaran 27 juni 2012 12:31 pm

http://jogja.tribunnews.com/2012/06/14/dua-pekan-dua-jasad-bayi 27 juni 2012 12:31 pm










[1] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1989) 40.

No comments:

Post a Comment