Saturday, January 12, 2013

Istifham dalam syair Manbij Syria


A.     Pengantar
Ilmu ma’aniy adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui hal-ihwan lafazh bahasa arab yang mencocoki terhadap muqtadhal haal-nya, oleh karena itu perbedaan bentuk-bentuk kalam mengindikasikan berbedanya hal-ihwal (maqom/motif). http://nahwusharaf.wordpress.com
Dalam ilmu ma’anni dikaji beberapa hal begitu juga dengan Istifham.  Istifham mencari pengetahuan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Adatul- istifham (kata tanya ) itu banyak sekali, diantaranya adalah hamzah dan hal.
Hamzah digunakan untuk mencari pengetahuan tentang dua hal:
a.      Tashawwur, yaitu gambaran tentang mufrod. Dalam hal ini hamzah langsung diiringi dengan ahal yang ditanyakan dan umumnya hal yang ditanyakan ini mempunyai bandingan yang disebutkan setelah lafaz am. (Ajrim Ali. 2006:273)
b.      Tashdiq, yaitu gambaran tentang nisbah. Dalam hal ini bandingan perkara yang ditanyakan tidak dapat disebutkan.

Hal digunakan untuk  meminta tentang tashdiq, tidak ada yang lain; dan tidak boleh menyebut bandingan perkara yang ditanyaka tentang hal. (Ajrim Ali. 2006:274)

Adad istifham (alat kata Tanya) selain hamzah dan hal  berupa ، (ما)، (مَنْ)، (متى)، (أيَّانَ)، (كيفَ)، (أينَ)، (أنَّى)، (كمْ)، (أيُّ.
Man/ مَنْ  untuk menanyakan keterangan makhluk yang berakal.
Maa/ ما untuk menanyakan keterangan nama atau hakikat sesuatu yang bernama.
Mataa/ متى untuk menanyakan keterangan waktu, baik yang lalu maupun yang akan datang.
Ayyana/ أيَّانَ  untuk menanyakan keterangan waktu yang akan datang secara khusus dan menunjukkan kengerian.
Kaifa/ كيفَ  untuk menanyakan keterangan keadaan
Aina/ أينَ  untuk menanyakan keterangan tempat.
Annaa/ أنَّى mempunyai tiga makna, yaitu bagaimana, darimana dan kapan.
Kam/ كمْ  untuk menanyakan keterangan jumlah.
Ayyun/أيّ     untuk menanyakan keterangan salah satu dari dua hal yang berserikat dalam suatu perkara dan untuk menanyakan tentang waktu, tempat, keadaan, bilangan, makhluk berakal, dan makhluk yang tidak berakal, sesuai dengan lafaz yang disandarinya.
Seluruh adatul-istifham tersebut digunakan untuk menanyakan tentang gambaran, dan oleh karena itu jawabannya berupa keterangan tentang sesuatu yang ditanyakan. (Ajrim Ali. 2006:276)
Kadang-kadang redaksi istifham itu keluar dari makna aslinya kepada makna lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimat. Makna yang lain tersebut adalah nafyi  (meniadakan), inkar, taqrir (penegasan), taubih (celaan), ta’zhim (mengagungkan/membesar-besarkan), tahqir (menghina), istibtha (melemahkan), ta’ajjub (keheranan), taswiyah (menyamakan), tamanni (harapan yang mustahil tercapai), dan tasywiq (merangsang)  (Ajrim Ali. 2006:280).

B. Studi Kasus
Al buhturi seorang sastrawan arab yang lahir di Manbij Syria berkata dalam syairnya
ألست أعمهم جودا و أزكا , هم عودا و أمضاهم حساما؟
Bukankah anda adalah orang yang paling merata kemurahannya, paling sehat badannya, dan paling tajam pedangnya?
(Ajrim Ali. 2006:277)
Pada istifham terdapat redaksi-redaksi istifham dengan makna-maknanya yang hakiki. Namun ada juga redaksi-redaksi istifham itu kadang-kadang menyimpang kepada makna-makna yang lain yang dapat diketahui melalui susunan kalimatnya.
Al-buhturi pada contoh diatas tiada lain bermaksud memotivasi orang yang dipujinya untuk mengakui kebolehan yang didakwakan kepadanya, yakni mengungguli seluruh khalifah dalam hal kemurahan, kekuatan fisik, dan keberaniannya. Ia sama sekali tidak bertanya kepada mukhatbahnya tentang semua kebolehan tersebut. Jadi, istifham pada kalimat tersebut bermakna taqrir  (penetapan/penegasan) . (Ajrim Ali. 2006:279)


C. Kesimpulan
Dalam istifham makna yang disampaikan dlaam redaksi- redaksi Istifham tidak hanya bermakna hakiki. Beberapa kasus mendapati makna-makana yang menyimpang dari redaksi-redaksi istifham tersebut .

D. Daftar Pustaka
Ajrim ali. 2006. Terjemahan Al-Balaaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensido
http://nahwusharaf.wordpress.com




 (Tugas Balaghah)


No comments:

Post a Comment