Saturday, January 12, 2013

Kajian Balaghah Puisi Nizar Qabani (حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا)


I.             PENGANTAR
Sastra Arab merupakan salah satu warga sastra dunia yang tidak asing lagi bagi para peneliti sastra dunia. Tradisi kesusastraan Arab yang tertua dan terkokoh adalah puisi atau asy-syi’r. (Pradopo. 2005: 7) mendefinisikan puisi sebagai perpaduan antara emosi, imajinasi, pemikiran, ide, nada, irama, kesan panca indera, susunan kata, kata-kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur baur. Semuanya itu terungkap dengan media bahasa.
Secara Ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejerniahan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar di antara macam-macam uslub ungkapan ( Amin. 2006:6)

Ilmu balaghah mempunyai objek kajian. Objek kajian ilmu  dirintis oleh Abdul Qahir al-Jurjani, dilanjutkan oleh As-Sakaki, dan dimantapkan lagi oleh Khatib al-Qazwaini. Dalam kitab Talkhisul Miftah yang dikutip oleh Abdul Jalal, beliau menjelaskan macam-macam ilmu Balaghah sebagai berikut:
a) Ilmu Ma’ani, yang membahas segi lafal Arab yang relevan dengan tujuannya. Definisinya yaitu :
 “Ilmu Ma’ani ialah ketentuan-ketentuan pokok dan kaidah-kaidah yang dengannya diketahui ihwal keadaan kalimat Arab yang sesuai dengan keadaan dan relevan dengan tujuan pengungkapannya”.
b) Ilmu Bayan, yang membahas segi makna lafal yang beragam. Definisinya yaitu :
 “Ilmu Bayan ialah beberapa ketentuan pokok dan kaidah yang dengannya dapat diketahui penyampaian makna yang satu dengan berbagai ungkapan, namun terdapat perbedaan kejelasan tunjukan makna antara satu ungkapan dengan ungkapan lainnya yang beragam tersebut”
c) Ilmu Badi’, yang membahas keindahan kalimat Arab. Definisinya yaitu:
 “Ilmu Badi’ ialah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dan keutamaan-keutamaan yang dapat menambah nilai keindahan dan estetika suatu ungkapan, membungkusnya dengan bungkus yang dapat memperbagus dan mepermolek ungkapan itu, disamping relevansinya.

            Pada makalah ini penulis mencoba meniliti salah satu puisi karangan Nizar Qabani yang berjudul حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا kemudian penulis akan menganalisis secara komprehensif qimah balaghiyyahnya (unsur-unsur balaghah) yang terdapat padanya.
II.           PEMBAHASAN



حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا
(الشاعر نزار قباني)

Ketika Aku Menjadi Pecinta
(Nizar Qabbani)


حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا
أَشْعُرُ أَنِّي مَلِكُ الزَّمَان
أَمْتَلِكُ الأَرْضَ وَمَا عَلَيْهَا
وَأَدْخُلُ الشَّمْسَ عَلَى حِصَانِي
H}i@na aku@nu ‘a@syiqon
As’uru anni@ maliku az-zama@n
Amtaliku al-arda wa ma@ ‘alaiha@
Wa adkhulu as-syamsa ‘ala hiso@ni@
ketika aku menjadi pecinta
aku merasa menjadi penguasa  waktu
kumiliki bumi dan segala isinya
dan berkendara kuda menembus matahari
*****
حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا
أَصْبَحُ ضَوْءًا سَائِلاً
لاَ تَسْتَطِيْعُ العَيْنُ أَنْ تَرَانِي
وَتَصْبَحُ الأَشْعَارُ فِي دَفَاتِرِيْ
حُقُوْل مَيْمُوْزَا وَأُقْحُوَان
H@}ina akunu@ ‘a@siqon
Asbah}u d}auan sa@ilan
La@ tast}atiu al-‘aynu an tarani@
Wa tas}bahu al-as’aru fi@ dafatiri@
Huqu@lun maymuza@ wa uqhuwan
ketika aku menjadi pecinta
aku menjadi cahaya yang cair
yang tak terlihat oleh mata
dan puisi-puisi dalam catatanku
menjadi ladang mimosa dan apiun
*****
حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا
تَنْفَجِرُ المِيَاهُ مِنْ أَصَابِعِيْ
وَيَنْبُتُ العُشْبُ عَلَى لِسَانِي
حِيْنَ أَكُوْنُ عَاشِقًا
أَغْدُوْ زَمَانًا خَارِجَ الزَّمَانِ
H}i@na aku@nu ‘a@siqon
Tanfaziru al-miya@hu min as}a@bi’i@
Wa yanbutu al-‘usybu ‘ala lisa@ni@
H}i@na aku@nu ‘a@siqon
'Agdu@ zama@nan kha@rija az-zama@n

ketika aku menjadi pecinta
air memancar dari jemariku
dan rerumput tumbuh di lidahku
ketika aku menjadi pecinta
aku menjadi waktu di luar semua waktu
*****
(Di ambil dari beberapa bagian potongan sajak (25-27-28) dalam “Kitab Al-Hub”/”Buku Cinta”  karya Nizar Qabbani)

Isti’aarah sendiri adalah salah satu bagian dari majaz lughawi, yang dimana tasybih yang dibuang salah satu tharafnya. Oleh karena itu, hubungan antara makna hakiki dengan makna majazi adalah musyabbah selamanya. Isti’aarah ada dua macam, yaitu:
a.         Tashrihiyyah, yaitu isti’aarah yang musyabbah bih-nya ditegaskan.
b.         Makniyyah, yaitu isti’aarah yang dibuang musyabbah bih-nya dan sebagai isyarat ditetapkan salah satu sifat khasnya.
Tasybih dhimni adalah tasybih yang kedua tharafnya tidak dirangkai dalam bentuk tasybih pada umumnya, melainkan keduanya hanya berdampingan dalam susunan kaliamat. Tasybih jenis ini didatangkan untuk menunjukkan bahwa hokum (makna) yang disandarkan kepada musyabbah itu mungkin adanya. (61).



وَأَدْخُلُ الشَّمْسَ عَلَى حِصَانِي
dan berkendara kuda menembus matahari
الشَّمْسَ pada bait di atas merupakan isti'aroh tasrihiyah karena musyabbah bihnya terlihat jelas. الشَّمْسَ juga termasuk isti’aroh asliyyah karena bentuk dari musyabbah bih berupa isim jamid.

وَتَصْبَحُ الأَشْعَارُ فِي دَفَاتِرِيْ (musyabbah )
 حُقُوْل مَيْمُوْزَا وَأُقْحُوَان  (musyabbah bih)
dan puisi-puisi dalam catatanku
menjadi ladang mimosa dan apiun

Bait diatas merupakan tasybih baligh atau dimnii karena musyabbah dan musyabbah bihnya berbentuk kalimat.
وَيَنْبُتُ العُشْبُ عَلَى لِسَانِي
 dan rerumput tumbuh di lidahku
Pada bait di atas merupakan isti'aroh tasrihiyah karena musyabbah bihnya terlihat jelas.


III.         KESIMPULAN
Puisi merupakan genre sastra yang sangat penting bagi kesusastraan arab. Keindahan bahasa puisi berkaitan dengan Balaghah sebagai salah satu cabang ilmu kesusastraan Arab.  Pada puisi Nizar Qabani diatas terdapat beberapa unsur-unsur balaghah seperti tasybih dan isti’arah.  Semoga penjabaran unsur-unsur balagah puisi diatas dapat bermanfaat bagi pembaca.


IV. DAFTAR PUSTAKA

Amin, Musthafa. 2006. Terjemahan Al-Balaghatul Waadhihah. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2005. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


(Tugas Mata Kuliah Balaghah)

No comments:

Post a Comment