Saturday, January 12, 2013

Sastra Arab Modern




I.                   Pengantar
Perkembangan bahasa arab dalam bidang sastra dari zaman Jahiliyah hingga zaman modern berkembang pesat. Bahasa Arab sering disebut bahasa penyair, dan Arab sendiri menganggap puisi menjadi esensi dari bahasa Arab (Ensiklopedia Sastra Arab,1998:606). Namun pada perkembangannya di zaman modern ini yaitu awal abad 19 sampai abad 20 banyak pengaruh luar yang mempengaruhi kesusastraan dalam hal genre, dan tema.
II.                Pembahasan,
Puisi merupakan  hal yang begitu penting di kalangan sastrawan arab.
Sikap terhadap genre sastra puitis dapat dijelaskan dengan mempertimbangkan warisan sastra yang diberikan pada orang-orang Arab. Mereka memiliki hubungan yang kuat dengan penyair klasik dan bahkan puisi hari ini adalah yang paling penting dan paling populer sastramedia di dunia Arab, dan modus sastra yang paling mencerminkan rasa identitas pribadi, sejarah dan nilai-nilai budaya "(Allen, 1998:217).
Puisi pra-Islam, dengan struktur tetap dalam bentuk meter dan sajak, mengadakan pengaruh terhadap sastra Arab sampai abad ke-20. Selama Abad Kegelapan disebut puisi Arab, serta literatur pada umumnya, masih tanpa pengaruh baru merambah dunia Arab dan merupakan periode yang paling produktif dari sejarah budaya Arab (Jayyusi, 1988:1).
Perubahan besar dalam dunia politik  Arab abad ke-19 memiliki dampak yang besar pada literatur dan tema serta pada bentuknya. Periode dimana sastra Arab mulai berkembang lagi sering disebut alnahda - "Renaisans" dan secara konvensional dibagi menjadi tiga bagian: neo-klasik, romantis dan modern (DeYoung, 1998:151, Starkey, 2006:42).
Paruh kedua abad kedua puluh membawa kemerdekaan satu negara Arab demi satu. Demokrat pemerintah dan Persatuan Arab, bagaimanapun, terbukti sulit untuk dicapai. Penulis arab tak berkurang daya tariknya dengan barat tetapi mereka merasa lebih bertanggung jawab atas nasib masyarakat mereka. Oleh karena itu mereka menyimpan tertarik mata pada ideologi politik Barat dan model sastra, namun menerapkannya lebih dan lebih ngotot untuk masalah mereka sendiri. Dengan ini garis besar dari keprihatinan berkembang dari Elite baru dalam pikiran, satu sekarang dapat beralih ke produksi sastra yang sebenarnya. (Cachia, 2002:127).

Sastrawan yang muncul di awal abad kedua puluh, seperti Thaha husayn dan al-Aqqa  d (1889-1964} mendapatkan reputasi mereka sebagai inovator. Mereka tidak mengkhususkan diri dalam salah satu genre; dan karena pembaca melek huruf begitu sedikit di Mesir yang pada tahun 1927 naik menjadi hanya 17% dan menjadi antara 25% dan 30% di pertengahan  abad. Mereka juga harus produktif jika ingin mempertahankan diri mereka sebagai para sastrawan. Jadi Thaha Husayn, yang pada satu waktu berpendapat bahwa Mesir adalah bukan negara Oriental tetapi negara Mediterania , menghasilkan hampir 1.500 artikel, beberapa terjemahan, dan enam puluh enam buku asli yang meliputi studi sastra, novel, cerita singkat, sejarah, dan karya pendidikan. (Cachia, 2002:131)


III.             Penutup

Sastra arab di zaman modern mengalami perkembangan yang luar biasa dari segi genre maupun tema. Para sastrawan juga banyak terpengaruh gaya asing walaupun tetap mempertahankan ideology mereka masing-masing.


IV. Daftar Pustaka
Allen, Roger. 1998. The Arabic Literary Heritage . Cambridge: Cambridge University Press.
Cachia, Pierre. 2002, ARABIC LITERATURE –AN OVERVIEW. London: New Fetter Lane.

DeYoung, Terri. 1998. Placing the poet - Badr Shākir al-Sayyāb and Postcolonial Iraq. New York: State University of New York Press.
Jayyusi, Salma Khadra (ed.). 1988. Modern Arabic Poetry. New York: Columbia University Press
Meisami, Julie Scott & Starkey, Paul. 1998. Encyclopedia of Arabic Literature, vol.I-II, London : Routledge.

 (Tugas Kritik Sastra Arab) 

No comments:

Post a Comment