Tuesday, February 26, 2013

IKUt part 2


Akhirnya, Dek Gufir pun berdiri bagai pahlawan bertopeng. Dia berjalan langkah demi langkah menuju ke depan kelas mencoba membetulkan laptop proyektor. Dia mulai mengotak-atik laptop tersebut. Sesekali mengecek tingkat kekendoran colokan kabel proyektor. Terus, digoyangkan ke kiri dan ke kanan. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Dek Gufir mulai komat-kamit dengan mantranya. Selama ini, teman-teman sekelas mencoba mendengarkan mantra apa sebenarnya Dek Gufir bacakan. Namun, sampai saat ini, semua itu masih menjadi misteri. Tidak ada seorang pun yang bisa memahami mantra tersebut. Tapi Dedi merasa bersyukur, karena hari itu, dia bisa mendengerkan mantra itu dengan jelas. Seperti ini mantranya,
“Aku belum sarapan. Aku belum sarapan. Duh..duh..duh. Kenapa udah disuruh ngidupin proyektor,” desis Dek Gufir.
            Luar biasa. Mantra yang sangat ajaib. Tiba-tiba, LCD menyala. Semua orang yang ada di kelas bersorak sorai, bertepuk tangan, bergembira bersama atas keberhasilan Dek Gufir yang kesekian kalinya menghidupkan proyektor. Dedi selalu merasa bangga punya kawan seperti Dek Gufir, karena dia sangat misterius dan tentunya karena Dek Gufir adalah “Sang Pawang Proyektor”.
            Di hari yang sama setelah penobatan Dek Gufir menjadi raja pawang proyektor sedunia, Dek Gufir disunat oleh Pak Surono. Seorang mantri sunat yang ada di kampung tempat Dedi tinggal. Seorang pria berumur 32 tahun lulusan akademi keperawatan di kota itu. Dia sebenarnya selalu mengidam-idamkan untuk menjadi seorang perawat senior di Rumah Sakit Umum Ferepo di pusat kota. Namun setelah lulus kuliah, ia kembali ke kampung untuk sekedar  berlibur dua bulan. Rencananya, setelah itu ia akan mendaftar menjadi perawat di rumah sakit tersebut.
            Pada masa-masa liburan sebagai pengangguran di kampung itu, Pak Surono banyak sekali mendapatkan panggilan dari orang tua yang ada di kampung itu. Tak lain tujuannya adalah meminta Pak Surono untuk menyunat anak mereka. Akhirnya sampai sekarang pun, ia masih menjadi seorang maestro sunat di kampung itu. Setiap minggu, ia biasa menyunat satu sampai dua orang pasien. Dek Gufir pun akan menjadi salah satu di antara pasien-pasiennya.
            Selapas pulang dari sekolah, Dek Gufir segera mengganti baju. Terus, ia mandi dan memakai sarung. Saudara-saudaranya sudah berkumpul di rumahnya. Sepupu Dek Gufir yang masih kecil-kecil dan saudara-saudara yang lainnya sengaja datang jauh-jauh dari kabupaten. Mereka meluangkan waktu untuk pergi ke tempat Dek Gufir yang baru disunat itu. Mereka ingin menyaksikan Dek Gufir disunat, namun tidak diizinkan Dek Gufir karena dia malu terutama oleh sepupunya yang masih kecil-kecil, tapi mereka sudah disunat.

            Di dapur, ibu Dek Gufir sedang menggoreng Ayam satu ekor lengkap dan tidak dipotong kecil-kecil. Itu semua sengaja disediakan untuk dimakan Dek Gufir. Ibunya juga menyiapkan nasi uduk, sambal goreng, dan kerupuk udang untuk menemani ayam goreng tadi. Itulah paket makanan yang biasa disantap anak-anak di kampung tersebut sebelum mereka disunat.
            Ketika Dek Gufir sedang makan makanan tersebut, Pak Surono pun datang lengkap dengan peralatannya. Pak Surono menyapa Dek Gufir,
“Gimana, udah siap belum, Dek? Habiskan dulu tuh ayam gorengnya!”
“Oh, siap banget, Pak. Ayo segera saja, Pak!” jawab Dek Gufir.
Tiba-tiba, ada teriakkan dari luar,
“Dek Gufirrrrrrrrrrr……. Aku mau lihat sunatnya,” suara Dedi memenuhi seisi rumah Dek Gufir.
“Nggak boleh! Kalian nggak boleh liat langsung! Cuma ibuku yang boleh melihat langsung” jawab Dek Gufir dengan tegas.
Lalu Reno berkata kepada Dek Gufir dengan memelas, “Ayolah Dek Gufir! Kita kan temen kamu. Masa nggak boleh sih? Waktu aku sunat dulu aja, kamu dan Dedi boleh ngeliat aku. Tapi kenapa aku sekarang nggak boleh?”
“Kalian nggak boleh melihat langsung, tapi kalian bisa melihat di ruangan itu” Dek Gufir berkata sambil menunjuk suatu ruangan.
“Hah??? Mana bisa kita lihat dari situ. Kan beda ruangan,” kata Dedi yang merasa  bingung. “Tenang aja, kalian masuk aja sana! Aku mau doa dulu nih. Semoga segalanya sukses sampai tujuan!” kata Dek Gufir.
            Dedi dan Reno pun berjalan ke ruangan yang sudah disiapkan oleh Dek Gufir. Di depan pintu itu, tertempel kertas merah yang bertuliskan “Ruang VIP Saksi Sunat Dek Gufir Khusus Dedi dan Reno”. Mereka merasa terharu karena menjadi orang-orang yang bisa menyaksikan Dek Gufir disunat, bahkan saudara-saudaranya pun tidak diizinkan untuk menyaksikan. Di ruangan itu, sudah terpasang proyektor dan LCD yang di sambungkan dengan kamera pencam kecil. Dek Gufir  sengaja menyewa itu semua dari rental agar sahabatnya bisa menyaksikan dia disunat. Dia memasang sendiri semua peralatan tersebut. Di dalamnya, terdapat juga makanan yang bisa mereka makan sambil menyaksikan Gufir disunat. Ketika melihat prosesi disunatnya Dek Gufir, Reno pun teringat akan kenangannya saat ia disunat waktu kecil dulu.
            Reno sahabat terbaik yang dimiliki Dedi selain Dek Gufir. Dia anak yang kreatif selalu membuat kejutan dengan hal-hal yang dilakukannya. Semua barang bekas di rumahnya bisa menjadi apa saja yang lebih menarik. Lampu bohlam bekas yang dikumpulkannya dari tetangga-tetangganya dia perbaiki dan dia buat jadi “piring bersinar”. Waktu itu, Reno pernah coba makan soto Surabaya di piring ini, tetapi dia langsung masuk rumah sakit. Bukan karena sotonya beracun, tetapi karena bibirnya terkena setrum piring itu. Cara memakai piring bohlam bersinar itu adalah dengan menyambungkannya ke listrik. Oleh sebab itu, Reno terkena setrum akibat kuah soto yang berperan sebagai konduktor[1].
            Reno sudah disunat sejak kecil. Ia sangat beruntung dibanding kedua temannya, Dek Gufir dan Dedi. Reno disunat ketika dia masih kelas dua SD. Renolah orang pertama yang disunat dibandingkan kedua temannya. Reno beruntung karena mempunyai bapak seorang mantri sunat yang terkenal. Tak lain adalah Pak Surono. Pak Surono ini juga yang juga menjadi mantri sunat Gufir.
            Sureno. Itulah nama panjang Reno. Kata Pak Surono, nama Sureno itu berarti Surono yang keren. Suku kata “ren” pada “keren “ menggantikan “ron” pada namanya. Pak Surono berharap ketika dia memberikan nama tersebut kepada anaknya, kelak anaknya akan menjadi manusia yang lebih keren dibandingkan dirinya. Ya, memang terbukti Reno memiliki daya kreatifitas yang cukup tinggi.
            Hari itu, ketika mereka masih kelas dua SD, Reno, Dedi, dan Dek Gufir sedang bermain kelereng. Tiba-tiba, Reno dipanggil bapaknya untuk pulang.
“Reno, ayo pulang! Kita sunat hari ini.”
            Tapi saat itu, Reno menangis sejadi-jadinya. Dia berlari sekencang-kencangnya menghindari bapaknya.
“RENOOOOOOO….,MAUUUUU KEMANAAAA KAMUUU ?” Pak Surono memanggil Reno.
“Aku nggak, hiks hiks, mau,hiks hiks, disunat,hiks, bapak” Reno menangis terisak-isak sambil berlari.
            Dedi dan Dek Gufir mengejar Reno. Mereka tahu dimana tempat persembunyian Reno. Betul saja, Reno sedang duduk di bawah pohon buah seri yang rindang sambil menangis terisak-isak, tetapi ia memetik buah dan memakannya.
“Reno, kenapa kamu nggak mau disunat?” Dedi bertanya kepada Reno.
“Aku takut disuntik. Abis itu nanti ituku dipotong. Terus nanti, kalo kepotong semua gimana? Nanti kalo guntingnya patah gimana? Nanti kalo dijahit pasti sakit, kan?” Reno mengatakan alasannya kepada Dedi.
“Sunat itu asyik. Kalo kata ibuku yang sekarang lagi di Bahrain, dia bilang kalo sunat itu nanti bisa bikin kita masuk surga, Ren. Kalo di surga itu enak. Kalo mau minta apa aja, pasti dikasih. Tapi, aku mau sunat tunggu ibuku pulang ke sini. Nanti, ibuku bakalan bawa uang yang banyak dan mengadakan pesta yang besar. Sebenernya, aku pengen banget, Ren sunat sekarang” Dek Gufir mencoba membujuk Reno.
“Iya kamu enak, Ren bisa sunat, sedang aku nggak bisa sunat karena luka sedikit aja nggak boleh kata dokter. Aku bisa meninggal kalo disunat. Soalnya, aku nggak boleh ada luka sedikit pun ditubuhku. Padahal, aku pengen banget, Ren disunat. Kata dokter, aku baru boleh disunat kalo umurku 15 tahun, karena pada saat itulah aku bisa minum obat dari luar negeri. Padahal, aku pengen banget sunat, Ren. Kamu malah nggak mau” Dedi mencoba membujuk Reno sambil meneteskan air mata yang jatuh ke buah seri yang membusuk di atas tanah.
            Reno pun berhenti menangis. Dia pun akhirnya mau disunat pada hari itu. Reno disunat oleh bapaknya dan disaksikan oleh kedua sahabat tercintanya itu. Reno menjadi orang yang pertama disunat di antara sahabat-sahabatnya. Dedi merasa senang, namun juga sedih. Dia senang karena sahabatnya sudah disunat, tetapi dia sedih karena dia harus menunggu enam tahun lagi untuk bisa sunat. Dek Gufir juga merasa senang,  meskipun sedikit sedih karena sahabatnya sudah disunat, sedangkan dia harus menunggu sampai ibunya pulang dari Bahrain.



[1] penghantar listrik yang baik

No comments:

Post a Comment