Tuesday, February 26, 2013

ikut part 3


Hari ini, hari ulang tahun Dedi yang ke lima belas tahun. Dedi, Dek Gufir dan Reno sekarang sudah kelas dua SMA. Minggu lalu, Dedi ke Singapura untuk berobat disana perihal penyakitnya yang tidak boleh luka selama hidupnya. Dedi mempunyai penyakit yang cukup aneh. Dia tidak  boleh luka sedikitpun.
            Ayah Dedi adalah seorang pemilik perkebunan buah di kampung tersebut. Keluarga Dedi memilki kecukupan materi. Apapun yang Dedi minta selalu diberi. Orang tuanya sangat sedih melihat keadaan Dedi yang seperti itu. Mereka harus selalu menjaga Dedi dengan ketat dan tidak boleh ada luka sedikit pun di tubuh Dedi. Dedi selalu memakai baju dan celana yang tebal. Kalau main, dia tidak boleh sembarangan dan terlalu jauh. Reno dan Dek Gufirlah sahabat Dedi yang selalu setia bermain dengannya sejak TK sampai mereka kelas dua SMA sekarang ini. Mereka selalu menjaga Dedi dengan kasih sayang. Kalau bermain, mereka tidak mau bermain yang kasar-kasar seperti lari-larian dan lompat tali. Mereka hanya bermain permainan digital yang dibelikan ibu Dedi untuknya. Sejak zaman Nintendo sampai zaman X-Box, Dedi pasti memiliki semua permainan itu. Permainan paling kasar yang pernah mereka mainkan hanya sekedar bermain kelereng.
            Kata dokter yang mengobati Dedi Singapura, Dedi sudah tidak mempunyai masalah lagi apabila terkena luka di tubuhnya termasuk untuk disunat. Rencananya, Dedi mau sekalian disunat di Singapura bersamaan dengan sembuhnya dirinya. Namun, Dedi tidak mau karena dia hanya ingin disunat Pak Surono alias bapaknya Reno, mantri hebat yang juga menyunat kedua sahabatnya. Akhirnya, Dedi pun meminta pulang ke Indonesia kepada ayah dan ibunya.
Suasana yang begitu meriah sudah mulai tampak di kampung Dedi. Hajatan sunatan Dedi merupakan peristiwa besar di kampung tersebut. Sepanjang jalan menuju kampung tersebut, dipasang umbul-umbul berwarna-warni. Gelas-gelas bekas air mineral yang dipotong setengah dicat berwarna-warni digantung pada tali-tali yang dipasang di atas rumah-rumah warga di kampung tersebut. Saking besarnya perhelatan itu sampai sekolah-sekolah yang ada di kampung itu diliburkan karena peristiwa sunatan Dedi. Keluarga Dedi yang terpandang dan keadaan Dedi yang unik membuat peristiwa tersebut seperti peristiwa besar di kampung.
Semua tokoh masyarakat diundang untuk menghadiri prosesi penyunatan Dedi. Saudara-saudara Dedi pun sudah berdatangan sejak dua hari yang lalu untuk membantu ibu Dedi menyiapkan makanan yang akan dihidangkan kepada para undangan. Orkes dangdut O.M Polantir sedang mengecheck sound untuk perayaan nanti malam.
“Sadu, sadu, satu dua tiga, cheyk. Sadu, sadu dua tiga, cheyk.” Seorang crew O.M Polantir mengulang-ulang kata-kata itu untuk mengecheck mikrofon sambil mengeluarkan suara bass dari mulutnya.
            Perayaan sunatan Dedi akan dilaksanakan seminggu penuh dengan berbagai macam acara yang menarik. Tak lupa,  makanan-makanan yang beraneka ragam pun dihidangkan.
Dek Gufir sudah disitu sejak kemarin malam. Dia menginap di rumah Dedi untuk menemaninya mengobrol, bercanda dan menenangkannya agar tidak panik ketika disunat. Karena teknologi sekarang sudah canggih, alat untuk sunat pun sudah canggih, misalnya laser. Alat-alat canggih itu tersedai di klinik sunat. Akan tetapi, karena Dedi akan disunat oleh Pak Surono, maka ia pun masih akan merasakan disunat secara tradisional dengan menggunakan gunting. Dek Gufir tidak merasa takut sedikit pun. Cita-citanya selama ini yang ia idam-idamkan akan segera terwujud. Ia tidak akan dikucilkan lagi oleh teman-temannya. Ia akan dipandang sebagai pria dewasa di lingkungannya. Sunat menjadi hal yang begitu penting dalam hidupnya juga sebagai salah satu sunah dari Rasulullah dan untuk menghindari penyakit-penyakit kelamin.
Reno masih di rumah bersama bapaknya untuk menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk menyunat Dedi. Ketika  Pak Surono dan Reno hendak keluar rumah untuk menyunat Dedi, tiba-tiba saja, Pak Surono terjatuh tidak sadarkan diri. Ia pun langsung dibawa ke Rumah Sakit Ferepo yang ada di kota. Sesampainya di rumah sakit, Pak Surono menghabiskan nafas terakhirnya di dunia ini. Reno brgitu terpukul atas kejadian ini. Ia pun mengalami kesedihan yang begitu mendalam.
Oleh karena kematian Pak Surono itu, Dedi membatalkan sunatnya. Dia dan keluarganya segera pergi ke rumah sakit untuk melihat Reno dan Almarhum Pak Surono. Dek Gufir tak ketinggalan ikut ke sana. Dedi dan Dek Gufir merasakan kesedihan yang begitu mendalam atas kehilangan ayah sahabatnya, mantri sunat  terhebat yang pernah mereka temui di dunia ini, yaitu Pak Surono. Dedi pun harus menunda sunatannya sampai batas waktu yang tidak diketahuinya.
TAMAT

No comments:

Post a Comment